
Prolog :
Di bawah derasnya hujan, disertai angin yang cukup kencang, petir menggelegar begitu menakutkan. Kamu pergi meninggalkan aku dalam keadaan sakit. Disitu aku berdiri, membeku dan pilu. Tak kuasa air mataku terjatuh menyertai guyuran air yang menetes dari langit yang manpak pekat itu. Perlahan kakiku terasa ngilu, tubuhku bergetar seakan mampu lagi menahan rasa sakit ini. Mataku kabur…tak kuasa aku menahan diri untuk tidak terjatuh.
Gelap……
* * *
Ku rasakan sendiri detak jantungku yang terasa begitu asing, desah nafasku yang hambar. Semua yang ku rasa begitu menyedihkan. Berat bagiku untuk membuka mata dan menerima kenyataan yang ada. Sepertinya aku tidak sanggup menghadapi ini semua. Aku tidak ingin bangun, aku tidak ingin membuka mata, aku ingin tertidur lama….
Tetapi sesuatu yang hangat perlahan menyentuh keningku lembut. Membuatku berfikir siapakah yang tengah meruntuhkan keinginanku yang begitu kuat untuk berlama-lama memejamkan mata. Aku berharap itu adalah kamu. Mungkin saja kamu kembali setelah melihat ketulusan hatiku ini. Dengan beribu harapan akhirnya aku mencoba membuka mata perlahan.
Samar-samar ku lihat seorang laki-laki itu memandangku, tapi masih belum jelas. Pandanganku masih kabur, mungkin karena aku terpejam terlalu lama. Tapi hatiku sudah yakin bahwa itu adalah kamu. Aku berusaha memperjelas lagi pandanganku dengan mengedip-ngedipkan mataku. Dan dengan jelas ku dapatkan dia tersenyum ramah padaku.
Kekecewaanku semakin dalam setalah mengetahui kenyataan bahwa itu bukan kamu. Rasa sakitku makin tebal setebal kulit bumi. Sampai aku tidak peduli siapa orang didepanku sekarang. Mataku mulai terasa panas dan berkaca-kaca. Betapa bencinya aku dengan semua ini.
“ Kamu sudah sadar?”, Tanyanya ramah.
“Ya, iyalah…udah melek gini masak gak tau?!”, gerutuku dalam hati. Tak sedikitpun aku tak menanggapi pertanyaannya. Entah kenapa aku malah kesal dengan pertanyaannya yang basa-basi itu. Ku rasakan sesuatu yang hangat mengalir dari mataku. Tanpa merasa bersalah sedikitpun ku alihkan pandanganku ke sudut-sudut kamar yang bersih itu sambil menyembunyikan air mata yang terlanjur keluar itu.
“Sebentar ya, aku buatkan teh hangat dulu”, pamitnya seraya berdiri dan menuju dapur. Sepertinya dia cukup paham dengan kediamanku.
Mataku terbentur pada sebuah jam kecil yang lucu di atas meja yang tepat berada disamping tempat tidur dimana aku berbaring saat ini. Waktu menunjukan pukul 07.12. Aku berusaha mengingat-ingat sesuatu. Sampai akhirnya laki-laki itu datang dengan secangkir tehnya. Dengan ramah dia menyuruhku untuk segera meminumnya. Tapi lagi-lagi aku mengabaikan kebaikannya itu.
Dengan nada lemas dan sedikit malas aku bertanya dengan hati-hati.
“Sekarang hari apa?”, tanyaku datar.
“Hari Senin, hampir 17 jam kamu pingsan”, jelasnya dengan sabar.
“Ha,..ha.ri..Senin?!”, ulangku terbata.
“He-eh”, angguknya.
“HAH!”, aku melonjak kaget. Responku itu tampaknya membuatnya kaget.
Tiba-tiba saja aku langsung pulih, aku lupa dengan sakitku. Aku kebingungan, jantungku berdebar tak menentu. Bagaimana ini?! Bagaimana ini?! bagaimana iniiiii..?!?! Hal ini membuat kepalaku sakit. Aaaaarrrghhh….!!!
“Ada apa?!” tanyanya heran, wajahnya tampak kekhawatiran seperti yang kurasakan. Aku hanya bisa mendesah.
Hah, aku berusaha menetralisir keadaan ini. Berusaha menenangkan diriku sendiri kalo semuanya akan baik-baik saja. Akhirnya aku mulai sedikit tenang dan bisa mengatur nafasku yang ngos-ngosan seraya di kejar gorila.
“Ma,..ma..af, aku harus buru-buru!”
Aku berhambur mencari pintu keluar. Aduuuhh….mana sich?!! Banyak banget pintu disini. Ni rumah kok mirip lawang sewu sich! Sekilas ku lihat dia bingung melihat tingkahku. Aku tidak menghiraukannya. Ah, akhirnya aku bisa keluar juga! Tanpa pamit, lupa! Sedang buru-buru!
* * *
Ach,,,,pusing nich! Moga aja yang baca gak pusing dECH!
BalasHapusSudah aku perbaiki lagi Prolognya!
BalasHapus