Novelalia

WELLCOME TO NOVELALIA IDEA

Thanks ya, udah ngeluangin waktu buat baca novel aku. Aku tunggu kritik dan saran dari Novelalia semuanya... :)

By. Alinda Velist

Senin, 12 April 2010

KARENA WAKTU AKU MEMILIHMU (Chapter 1)



NANIA ANINDYA

 

SMU Kasih adalah salah satu SMU elit di Jakarta. Murid-muridnyapun dari kalangan menengah keatas. Ruangan ber-AC, lantai yang selalu terjaga kebersihannya, perpus dengan buku-buku bacaan yang amat sangat komplit, pelajaran yang tentunya setingkat lebih maju dari SMU pada umumnya tentu sudah menjadi kelebihan utama SMU Kasih, taman yang indah, kolam renang yang luas, lapangan foot ball dan basketnya yang luasnya pas benget itu sering di jadikan rumah pertandingan antar SMU.

SMU Kasih bukan hanya melihat murid dari kalangan menengah ke atas, tapi juga melihat prestasi calon murid yang akan masuk ke SMU Kasih. Kaya tapi bodoh, jangan harap bisa masuk SMU ini! Karena itu banyak orang tua yang tergiur dengan fasilitas SMU Kasih dan ingin anaknya masuk ke SMU ini. Bukan hanya bisa dibanggakan, tapi SMU Kasih memang sudah terpercaya dalam mendidik muridnya.

Tapi dilain pihak, tidak sedikit murid SMU Kasih yang terkesan sombong dan jadi merasa lebih istimewa dibanding murid-murid SMU lain. Keglamoran para siswa siswi SMU Kasih sudah nampak sangat menonjol dan terlalu berlebihan. Cewek-cewek dengan segala pernak-pernik yang serba mahal dan cowok-cowok dengan gaya funky bak model iklan Gel rambut bermerk. Walaupun dengan tampang pas-pasan, mereka bisa jadi sok kece. Itu yang bikin aku nek sekolah disini. Kalau bukan karena paksaan mama dan papa, ogah deCH aku sekolah disini! Memang sich, nggak semuanya seperti itu. Tapi 85% dari kami penampakkan ciri khas seperti itu.

Terpontang-panting aku berlarian dikoridor sekolah, setelah bersusah payah merayu Pak Ramdhan satpam sekolah yang sangat militeris itu. Kalau bukan aku, sampai nangis darahpun nggak akan dibuka dech itu pintu gerbang! Secara...aku kan bukan tipe murid yang suka terlambat. Aku juga terkenal sebagai siswa yang rajin dan nggak neko-neko. Yang lebih membuatku terkenal disini adalah karena aku pacaran sama si Dio. Cowok istimewa dan anak pemilik SMU Kasih ini. Walaupun sekarang Dio sudah lulus dan melanjutkan kuliah di UI fakultas Kedokteran.

“Hah, hah, hah, rasanya napasku mau putus. Udah nggak kuat. Ayo! Kurang sedikit lagi….!,” aku terengah-engah tak berdaya. Jika seperti ini pasti mukaku terlihat merah. Lariku terpontang panting tak terarah, aku tak mampu lagi mengontrol tubuhku ini. Rasanya seperti malayang ringan tak terarah.

BRUUKKK!!! Sepertinya aku telah melakukan hal yang sangat fatal. Hah! Aku terbelalak sangat lebar setelah mengetahui kesalahan mutlak itu. Aku menabrak Bu Rasti. Guru tergalak di republik ini.

“Hwahahaha….,” suara tawa temen-temen serentak membuyarkan rasa tegang dijam ujian.

“NANIA! APA YANG KAMU LAKUKAN?!,” teriak Bu Rasti lumayan bikin telinga berdengung.

Mati deCh…akuuu!!! Udah telat ketimpa pantat! Mana segede gajah pula! Kayaknya mengikku kumat niCH….hik.hik.hik….aku tidak bisa bernafas!

“ Kamu kenapa?!,” tiba-tiba wajah Bu Rasti berubah panik.

Gimana aku mau ngomong? Napas aja susah. Aku sudah tidak berdaya. Aku bisa bayangin, pasti wajahku ini mirip cumi-cumi yang sudah mati sedari tiga hari yang lalu. Gak Cuma pucat lagi tuch…!!! Aku hanya mampu mengandalkan telunjukku untuk memberi tau bahwa aku terjepit. Bu Rasti Menindihku. Reflek Bu Rasti langsung berdiri. Temen-temen terkikik geli melihat kejadian ini.

“Kenapa terlambat?!”, tanya Bu Rasti tegas.

“Anu…emm…itu….,” tidak mungkin aku menceritakan semuanya. Aku bingung harus beralasan apa? “maaf, Bu. Saya janji tidak akan mengulanginya lagi”.

“Ya, Sudah. Karena sebelumnya kamu tidak pernah seperti ini jadi ibu maafkan tapi satu kali lagi kamu terlambat, akan ibu hukum kamu! Paham?!”, peringatnya dengan tegas. Memebuatku sedikit terlonjak dan saking takutnya aku mengangguk-anggukkan kepala dengan cepat dua kali.

Pagi terburuk dalam hidupku. “Fuuuuhhh!!!!!”, aku menghela nafas panjang. Ujian kali ini amat sangat berat. Tidak ada belajar. Tidak ada sarapan. Tidak ada ucapan selamat pagi dan semangat dari dia lagi. Ah, kenapa juga aku masih mikirin dia??? Aku harus fokus disini! Aku nggak boleh terus-terusan seperti ini, waluapun masih sangat jelas kepedihan itu...

Satu Jam.

Lembar jawabanku masih kosong, tak satu nomorpun yang bisa ku jawab. Aaaaarrrrrgggghhhhh!!!!!!!! Payah! Berulang-ulang aku hanya mampu garuk-garuk kepalaku yang memang udah waktunya keramas! Uch, sangat mengganggu konsentrasi.

Dua Jam berlalu.. Teeeeettt…!!! Teeeeettt….!!!

“Ah…., Aduuuh….!!! Masih kurang 9 soal. Gimana niiiiCH….?!!! Bodo’ niCH! Ah, gak bisa mikir dech!”.

“Nania…!!!”.

“Huf! Bu Rasti niCH gak sesabar Amat ya? Amatnya aja baru selesei dua soal tuch!”, gerutuku dalam hati sambil memperhatikan si Amat yang masih asyik nyontek lambar jawaban si Adit. Dengan kesal dan terpaksa, aku menyerahkan soal ujian beserta lembar jawabannya.

 

*   *  *

 

Dengan langkah gontai aku keluar ruangan. Hah, Hari yang sangat melelahkan. Mungkin wajahku terlihat lesu! Perjalanan pulang kali ini amat sangat menyedihkan, biasanya…dari kampusnya Dio akan mampir kesini untuk menjemputku dengan Ninja merah kesayangannya itu. Hari yang panas! Hatiku juga sedang panas! Otakku panas! Badanku terasa panas! Ah, panas dech pokoknya!

            Ku langkahkan kaki menuju pangkalan metromini yang tak jauh dari sekolahku. Dengan gontai ku sapu keringat yang mengalir di wajahku tak berdaya dan tek terbiasa sesengsara ini. Berkali-kali ku hembuskan nafas panjang, berharap semua masalah ikut terbuang bersamanya. Hal itu lumayan untuk menahan sedikit rasa sakit ini. Ku ayunkan pandangan di dalam metro mini, ternyata hanya aku siswi SMU Kasih yang naik. Hampir semua murid SMU Kasih membawa kendaraan sendiri, dan yang lainnya dijemput sama gebetan ato supir pribadinya. Hal itu membuatku mengeluh lagi.

            Kulit putihku berubah merah karena sengatan matahari yang tidak bersahabat. Membuatku tampak seperti tomat rebus. Hal itu membuatku semakin risih. Beberapa orang menatapku aneh, mungkin mereka sadar kalau aku tampak seperti seekor kucing yang terjebak diantara srigala. Ups! Ya nggak sampek seperti itu sich…tapi hampir seperti itu. Ketidak terbiasaan ini membuatku tampak kaku. Aku sangat menyadari hal itu. Sampai akhirnya metro mini melaju dan membawaku pulang.

            Sekilas semilir angin masuk lewat jendela metro mini tersebut, sungguh menyejukkan. Kesejukan yang didapat dengan bersusah payah dan tak semudah biasanya. Kesejukan ini terasa labih nikmat dan penuh dengan perjuangan. Aku mendapatkan setitik keindahan diantara sakitku dan aku menikmatinya.

 

*   *   *

 

“Nania, dari mana saja kamu?!,” tanya mama yang sengaja tengah menungguku pulang dengan tegas. Terpancar kemasan dari kemarahannya tersebut. Papa hanya diam dan menetapku jatam.

Deg! Jantungku rasanya mau keluar. Tiba-tiba tanganku terasa dingin di cuaca yang sebenarnya teramat panas ini hingga menggigil. Apa yang harus ku jawab? Aku tidak begitu pandai berbohong, apalagi dengan papa dan mama. Masak aku harus bilang baru di putusin sama Dio lalu pingsan dan akhirnya di tolong oleh seorang laki-laki terus terpaksa menginap dirumah laki-laki yang sama sekali belum aku kenal itu karena aku pingsan selama 17 jam. Hah, bisa dikuliti niCH!

“Ma..ma-af, ma. Nania nggak pamit!,” jawabku dengan terbata-bata.

“Mau jadi apa kamu?,” emosi mama naik. “Kamu anak perempuan, kalo sampai terjadi sesuatu sama kamu siapa yang susah?!”

Aku hanya bisa diam. Merasa bersalah. Bodohnya aku!

“Sekarang coba jelaskan, kenapa kamu tidak pulang?!” Perintah mama setengah membentak.

“Ma..ma’af, ma! Nania bersalah!,” bulu kuduku bergidik. Bukan karena ada hantu. Aku benar-benar takut dan tidak sanggup menghadapi ini semua.

“Mama hanya meminta penjelasan dari kamu! Ayo coba jelaskan sama mama, KENAPA KAMU TIDAK PULANG?!” Bentakkan mama kali ini membuatku melonjak kaget.

“I…iya…ma. Anu…Nania itu….ma??? I…itu…..???” Garuk-garuk kepala, mikir,mikir,mikir….!!!! Mama dan papa seolah mau melumatku sampai habis. Aku bagai terdakwa mati.

“ITU APA?!” Tanya mama keras.

“Itu…ada tugas kelompok dirumah chika ma. Soalnya….soalnya pagi tadi harus segera selesai, ma. Ma’afin Nania ma,..Na..nia salah!” Aku merasa lemas diakhir kalimat. Ya Tuhan, ampunilah dosaku. Mama menatapku dengan curiga, sepertinya mama tau aku berbohong. Tiba-tiba aku tersedak dan air mata ku tidak bisa ku tahan lagi.

“Hwaaaaaaaaaa…!!! Hwaaaauwaaauwaaaa…hiks.hiks.hiks…!!! Hiks…hwaaaaa….!!!!.”

Mama bingung melihatku tiba-tiba menangis miris seperti itu. Habis, mau gimana lagi? Aku takuuuuuuutt….!!! Wajah mama mendadak berubah pucat, mungkin mama merasa bahwa beliau terlalu keras memarahiku.

“Sudah-sudah diam, cepat ganti baju dan makan lalu tidur siang. Awas kalo sampai mengulanginya lagi. Mama tidak akan memberimu uang saku sampai kamu lulus!,” ucap mama kesal seraya pergi ninggalin aku yang masih tersedu-sedu. Ku tatap papa yang masih duduk menatapku dan memberiku kode untuk masuk ke kamar.

 

*   *   *

 

Malam ini terasa begitu dingin, terasa menusuk hatiku yang tengah terluka. Rasanya aku sudah tak bisa tersenyum dan tak ingin tersenyum lagi. Hanya menghela nafas panjang. Itu yang mampu ku lakukan berkali-kali tanpa ada sepatah kata ataupun air mata. Kosong. Semua jadi kosong. Aku menatap ruang yang kosong seperti otakku saat ini.

Papa pergi nganterin Mama ke resepsi pernikahan rekan kerjanya. Kakakku Vicky jam segini pasti udah nongkrong diwarung depan rumah adu catur sama ganknya. Kakakku satu ini agak bandel, suka kelayapan, sering bolos kuliah dan juga berantem. Meski begitu dia amat sangat sayang sama aku. Dia seorang kakak yang baik. Aku juga sayang sama dia.

Yang terjadi padaku kemarin adalah kesalahanku. Aku tidak bisa menerima kenyataan kalau Dio akan ikut papanya ke Jepang. Aku bilang sama dia, aku tidak mau berhubungan lagi dengannya jika dia tetap dengan niatnya ikut papanya pindah ke Jepang. Papa dan mama Dio bercerai dan Dio harus memilih ingin tinggal dan ikut dengan siapa? Dio lebih memilih papanya karena mamaya akan menikah lagi dengan seorang pengusaha batu berlian yang katanya sudah mempunyai 5 orang anak dari 2 orang istri tersebut. Dio tidak menyangka kalo ternyata mamanya sangat materialistis. Dan memilih mengorbankan keluarganya demi ambisinya sendiri. Rupanya bersuami pemilik SMU  Kasih saja tidak cukup bagi ibu Dio. Sematrealistis itukah Mama Dio?!

Sementara itu, SMU Kasih akan di kelola oleh paman Dio adik kandung papanya yang tengah menetap di Indo bersama anak dan istrinya. Keluarga Dio tergolong sangat kaya tapi tidak lebih kaya dari pengusaha batu berlian itu. Paling tidak papa Dio tidak membiarkan istrinya serba kekurangan semuanya sudah lebih dari cukup. Kenapa mama Dio sampai sebegitunya ya? Apa benar hanya karena harta saja? Setauku mama Dio sangat baik dan tutur katanya sangat santun. Tapi tetap saja aku tidak bisa menebak apa yang ada di dalam kecantikannya itu. Walaupun kita sama-sama perempuan.

Di saat seperti ini harusnya aku mendampingi Dio, bukannya malah berpisah dengan cara seperti ini. Pasti dia sekarang sedang membutuhkan kehadiranku. Tapi aku malah bermain dengan keegoisanku agar dia mau tetap tinggal disini kalau ingin hubungan kita terus berjalan. Dan lebih parahnya lagi dengan tegas Dio memilih memutuskan aku, dari pada dia bisa jalan denganku tapi batinnya tersiksa karena setiap saat bisa dengan mudah bertemu dengan ibunya yang sekarang menjadi sosok yang paling dia benci saat ini. Dio juga tidak ingin mengecawakan ayahnya dengan keputusannya tetap tinggal di Indo.

Saat itu aku masih juga belum dan tidak mau mengerti dengan perasaannya. Setelah semuanya berakhir...baru aku sadar kalau ternyata aku egois. Kalo aku tidak melakukan hal bodoh seperti itu pasti ini tidak akan terjadi. Dio pasti masih bersamaku, seperti biasanya, ketemuan di Fresh Café ngemil Crispy plus nyedot orange juice-nya yang cles itu sambil cerita dari A sampai Z. Puas banget dah! Walaupun itu tidak akan lama. Paling tidak, kita berpisah secara baik-baik.

Tapi disisi lain, egoku yang tinggi membuatku sukar untuk mengalah dan meminta maaf padanya. Walaupun hampir setiap hari kita bertengkar karena ketidak cocokan kita , hal itu tidak menyurutkan rasa cinta dan sayangku sama Dio.

Sekarang aku tidak tau lagi harus berbuat apa? Dio...kekasih sempurna dalam hidupku. Aku merasa tidak rela dengan semua ini.

“Kruk.kruk.kruk.kruk….!!!”

Hah, perutku berbunyi! Lapaaaarrr….!!! Tapi aku sedang tidak selera makan. Kenapa sich, perut ini gak bisa di ajak kompromi?! Katanya orang yang sedang patah hati itu tidak merasa lapar? Melihat makanan saja tidak selera, tapi…kenapa aku tidak begitu? Mungkin aku akan makan sesuatu sambil menangis darah. Walaupun pasti rasanya akan aneh dan tidak enak.

“Uch, lebih baik aku mencoba memejamkan mata saja. Hah…tidak bisa!,” aku bergegas ke dapur, rumah masih sepi. Rupanya mama dan papa belum dateng. Hufff...!!! Dengan malas ku ambil sepotong roti dari kulkas dan duduk di meja makan. Aku mencoba menelannya walaupun amat sangat susah karena bayangan Dio selalu menari-nari di otakku bak hantu penasaran. Hih! Kok jadi mikirin hantu?!

Tiba-tiba bulu kuduku merinding....?!?! Aku bergegas masuk ke kamar lagi, ku tarik selimut hingga menutupi muka. Dan aku terisak. Kenapa semua ini harus terjadi padaku? Hiks..hiks...

 

*   *   *

            Hari ini aku datang lebih awal dari biasanya. SMU Kasih masih terlihat sangat sepi, hanya ada satu dua siswa yang sudah datang untuk menyelesaikan PR bareng di kelas. Sama seperti SMU pada umumnya, jika tidak bisa mengerjakan soal dirumah lantaran sibuk main ke mall maka pagi-pagi sekali mereka sudah datang dan mengerjakannya bersama. Dengan begitu, beban yang mereka tanggung akan terasa lebih ringan. Bedanya di SMU Kasih ini, hampir gak ada murid yang suka nyontek kerjaan temen, semua di tanggung bersama dengan cara saling bertukar nomor soal ini jawabannya itu. Kecuali si Amat yang benar-benar Amat sangat kurang pintar itu, entah bagaimana ceritanya dia bisa lolos dari tes dan masuk menjadi siswa SMU Kasih. Mungkin waktu itu yang mengoreksi hasil ujian si Amat lagi ngantuk berat sehingga terjadi kecerobohan yang lumayan bisa menjatuhkan kwalitas SMU Kasih dikalangan umum.

            Satu demi satu siswa berdatangan, wajah-wajah mereka terlihat cerah dan warna-warni seperti biasanya. Tapi dimataku semua tampak lain dari biasanya. Mereka seperti sedang mengejek kemuramanku. Hal itu membuatku menelan ludah yang terasa sakit dan pahit ini. Pandangan mataku tak segar lagi seperti biasanya semua menjadi abu-abu karena Dio. Jika yang lain berwarna cerah, aku melihat diriku dengan warna hitam putih khas orang yang sedang patah hati. Seperti sebuah foto yang teredit oleh photoshop, membuang diriku dari warna normal RGB menjadi Grayscale atau Sepia. Aku hanya bisa melihat sekitarku berwarna cerah sedangkan aku tidak. Sangat mengenaskan bukan?!

                        Hingga sebuah tepukan hinggap dibahu kananku dan mengagetkanku. Wajah iseng itu menertawakan kekagetanku yang mungkin dianggapnya amat sangat lucu. Aku hanya menghembuskan nafas panjang melihat tingkahnya. Aku begitu malas untuk membuka mulutku. Tak seperti biasanya memang, di hari-hari biasa aku sangat antusias bercerita ini dan itu, bahkan tidak segan-segan memarahi teman yang berani iseng sama aku. Walaupun begitu, mereka bukannya malah takut tapi menganggapku lucu. Lucu kaya badut di Ancol maksudnya? Tadinya aku berfikir begitu.

            Mereka biasa memanggil aku dengan sebutan baby face ala Indo. Karena jika aku marah raut mukaku bukannya bertambah garang tapi malah terlihat lucu layaknya seorang baby yang merengek minta di gendong mamanya, itu bikin mereka gemes dan ingin menciumku. Ih, itu membuatku geli! Untungnya Cuma temen-temenku yang cewek yang seperti itu. Kalau yang cowok juga seperti itu apa jadinya aku?!

            Nara bingung melihat expresiku, saat seperti ini tampaknya ia mengerti dan enggan menggodaku seperti biasanya. Dia paling kenal siapa dan bagaimana aku. Wajahnya mulai serius saat sekilas aku menatapnya dan kemudian merunduk pilu. Aku ingin menangia, mataku terasa panas. Selama ini Nara begitu dekat dan amat sangat dekat denganku. Dia adalah satu-satunya teman curhatku. Selama ini, setiap ada masalah dia yang memebantuku mencari jalan keluar atas masalah yang sedang ku hadapi.

            “Masalah apalagi yang membuatmu muram seperti ini Nania?,” tanyanya lembut seraya duduk di sampinku dan membelai rambutku yang sengaja ku biarkan terurai lembut.

            Akhirnya tak dapat ku tahan lagi air mataku, mendengar pertanyaan Nara membuatku bertambah cengeng dan manja. Aku terisak. Nara cukup paham dan membiarkan aku dengan tangisan-tangisan darah dari mataku yang nampak layu ini. Nara memang sangat dewasa dan tegar menghadapi masalah, jauh berbalik denganku yang manja dan cengeng. Setelah beberapa saat dan tangisanku mulai mereda, aku mulai menceritakan semuanya kepada Nara sahabatku.

            Nara menggelengkan kepalanya mendengar ceritaku barusan, tingkahnya menjadi sok keibuan yang terlihat seperti dibuat-buat. Padahal...dia akan lebih terlihat dewasa jika bersikap seperti biasanya. Perubahannya membuatku merasa seperti saat aku ngobrol dengan mamaku sendiri. Apa dia setua itu? Hah, dasar Nara. Sikapnya selalu begitu, membuatku seperti anak kecil dihapannya dan itu membuatku merasa nyaman lebih nyaman dibanding saat aku benar-benar menceritakan sesuatu pada mama. Jika dengan mama masih ada rasa enggan di hatiku, walaupun mama sangat dekat dan sayang sama aku tapi itu kurasakan berbeda.

            Kalau dengan Nara, hampir tidak ada rahasia diantara kami. Kita saling terbuka satu sama lain, bedanya aku nggak bisa jadi seorang Nara yang dapat dimintai pertimbangan dalam menghadapi suatu masalah, aku hanya bisa menjadi pendengar yang baik untuknya. Hal itu membuatnya lebih dari cukup. Asalkan aku ada saat dia butuh teman curhat dan pendengar yang baik seperti aku, Nara sudah merasa bebannya berkurang 50% dan sisanya dia bisa cari sendiri jalan keluarnya.

            Nara sesosok yang mengagumkan bagiku, di umurnya yang baru menginjak 17 tahun dimana yang lainnya sedang asyik menikmati dunianya. Dia malah bergelut dengan masalah demi masalah yang menimpanya. Tapi dia tetap terlihat tegar dan ceria, kenapa aku tidak bisa seperti dia?

            Ayahnya meninggal setahun yang lalu, karena dia anak tertua dengan 2 orang adik yang satu laki-laki yang masih duduk di kelas 3 SMP dan yang satu lagi cewek baru duduk di kelas 1 SD. Nara bertugas menjaga dan membimbing adik-adiknya, karena mamanya yang semakin sibuk mengurus kantor menggantikan posisi papanya. Nara mempunyai seorang mama yang sama hebatnya seperti dia. Tegar, berpembawaan sangat tenang dan juga ramah.

            Karena tau mamanya sudah sangat kerepotan mengurus kantor, setiap pagi Nara harus membangunkan Key adik laki-lakinya itu untuk segera mandi sarapan dan berangkat ke sekolah bareng. Dulu aku sempat bertanya kenapa adiknya dinamakan sebuah Key? Bukanya Key itu kunci? Alasannya biar bisa jadi pembuka kesuksesan. Hehehe... Aku langsung tertawa aneh di depan Nara yang raut wajahnya juga tergambar aneh begitu melihat responku.

            Nara juga harus membantu si kecil Funny untuk mandi dan menyiapkan bukunya ke dalam tas yang tidak mungkin merepotkan bik Murni yang sedang sibuk menyiapkan sarapan pagi. Kali ini aku sudah bisa menebak kenapa dia dinamakan Funny, ya pastinya karena dia kecil, imut dan pastinya lucu.

            “Ngaco kamu, emang sich..funny itu artinya lucu tapi arti yang dimaksudkan papa dan mama nggak seperti itu kaleee...!,“ sangkal Nara waktu itu.

            “Terus, apa donk?!,” tannyaku penarasan.

            Funny yang kami maksud itu agar dia nantiknya dapat menejadi sumber kebahagiaan bagi semua orang!,” jelasnya tegas.

            “Sama ajalah, Ra!,” belaku setengah malas.

            “Ya nggaklah!,” ucapnya tak mau kalah. Males ngomong dech aku kalau sudah begitu.

            Hanya Nara saja yang namanya tidak mengandung artian dalam bahasa kebarat-kabatan seperti itu. Keluarganya tergolong cukup aneh dalam memberi nama anak-anaknya. Tapi nggak ada salahnya juga untuk ditiru. Hihihi…nanti kalau aku punya baby akan aku kasih nama Money, wach…pasti kelak dia akan jadi orang kaya toech!

            Nara menggantikan sesosok ibu untuk adik-adiknya, dan ibunya menjadi sesosok ayah dalam keluarga. Mereka perempuan-perempuan yang hebat. Adik-adiknya sangatlah beruntung memiliki seorang kakak dan ibu seperti mereka. Hingga saat ini Nara memutuskan untuk tidak pacaran seperti yang lainnya. Dia takut tidak ada waktu untuk adik-adiknya kelak kalau dia punya cowok. Padahal selama ini Adit sedang menunggunya dengan penuh kesabaran, aku tau kalau Nara juga menaruh hati pada Adit. Sehingga hubungan mereka berjalan begitu aneh. Dibilang pacaran tidak, berteman tapi terlalu dekat.

            Wajah Nara yang ayu tidak membuat Adit merasa bosan dengan keadaan yang mengambang seperti ini. Bahkan berkali-kali Adit meyakinkan Nara kalau dia akan selalu ada dan menunggu Nara. Padahal nggak sedikit gadis-gadis cantik yang tertarik dengan aura pemikat Adit yang berwajah tampan dan original itu. Perawakannya yang tinggi dan atletis itu pas banget untuk jadi cover boy. Tapi sayangnya Adit alergi kamera, dia lebih menikmati kehidupannya di bidang olah raga basket. Katanya jadi pemain basket yang handal itu dia bangeeettt..! Sayang bangetlah jika wajah Adit lolos dari kamera, padahal dari tampang itu dia bisa mengeruk uang sebanyak-banyaknya. Tak sedikit pula tawaran untuk main iklan menghampirinya, tapi denngan halus dia menolaknya. Begitulah Adit, dia tidak bisa melakukan hal-hal yang menurutnya tidak nyaman.

            “Nania, kamu dengar? …..NANIA!,” Teriak Nara mengejutkanku membuatku tersadar dari lamunanku.

            “Eh..emm..apa?!.” Ku lihat wajah Nara mulai kesal. “Maaf, Nara. Aku tidak sengaja, kamu tadi ngomong apa?,” tanyaku dengan perasaan bersalah.

            “Tadi aku bilang kalau hubunganmu dengan Dio memang sudah tidak mungkin dipertahankan lagi, kecuali kalian bisa menjalani hubungan secara longdistance. Itu..keputusan yang terbaik menurutku, Nania! Setidaknya…kamu jangan bersikap seperti ini sama Dio, jangan menyia-nyiakan sedikit waktu yang tersisa buat kalian berdua jika tidak ingin menyesal nantinya. Kamu tidak boleh egois seperti ini Nania.” Nara diam karena melihat mataku mulai berkaca-kaca lagi, dia merasa kalau kata-katanya barusan menyakitiku.

            “Aku tidak ingin kamu menyesal Nania!.” Ucap Nara seraya meraih dan memelukku erat. “Tidak ada sesuatu yang sempurna di dunia ini Nania, tak terkecuali cinta. Mungkin Dio memang laki-laki yang sempurna, tapi tidak dengan cinta yang tengah dimilikinya. Tak ada yang abadi Nania, seseorang akan datang dan pergi silih berganti dalam hidupmu. Seperti papaku, setelah kepergian papa Adit datang untukku dengan cinta menggantikan cinta papa.”

            “Tapi kamu telah membiarkan Adit dalam hubungan yang tidak jelas, Nara!.” Sergahku tidak mau kalah.

            Nara menelan ludah dengan susah payah. “Siapa bilang hubungan kami tidak jelas?,“ sangkal Nara seolah tanpa perlawanan. Aku hanya tersenyum kecut melihat sikap Nara. Wajahnya terpancar kebimbangan yang dalam, entah sebarapa dalam aku tidak bisa menyelaminya.

            “Kamu bisa memberiku pengertian tentang Dio, tapi kenapa kamu tidak bisa memberi dirimu sendiri pengertian untuk tidak membiarkan Adit mengambang dalam hubungan yang sengaja kamu buat tidak jelas itu?.“ Mata Nara melebar oleh tudinganku yang terang-terangan tengah melawannya itu. Entah kenapa aku sangat kesal sekali dengannya. Baru kali ini aku tidak setuju dengan sarannya dan malah memojokkannya. Aku merasa kali ini Nara kurang tepat dalam memberiku jalan keluar.

            Nara menatapku heran, mungkin dia juga merasa kalau kata-kataku barusan benar. Nara tidak berusaha melawanku. Tak lama kemudian dia memalingkan wajahnya dari hadapanku. Entah apa yang sedang ia pikirkan saat ini. Melihatnya seperti itu, aku mulai dihinggapi perasaan bersalah.

            “Maaf, Nara. Aku…terbawa emosi,” ucapku seraya meraih kedua tanggannya dari atas meja. Nara tak membalas ucapanku, hanya saja senyumnya sudah mewakili kata maafnya untukku. Senyuman dan tatapan mata yang teduh tapi tampak jelas menggambarkan kepedihan hatinya.

 

*   *   *

Selasa, 06 April 2010

KARENA WAKTU AKU MEMILIHMU


Prolog :


Di bawah derasnya hujan, disertai angin yang cukup kencang, petir menggelegar begitu menakutkan. Kamu pergi meninggalkan aku dalam keadaan sakit. Disitu aku berdiri, membeku dan pilu. Tak kuasa air mataku terjatuh menyertai guyuran air yang menetes dari langit yang manpak pekat itu. Perlahan kakiku terasa ngilu, tubuhku bergetar seakan mampu lagi menahan rasa sakit ini. Mataku kabur…tak kuasa aku menahan diri untuk tidak terjatuh.

Gelap……

 

*   *    *

 

Ku rasakan sendiri detak jantungku yang terasa begitu asing, desah nafasku yang hambar. Semua yang ku rasa begitu menyedihkan. Berat bagiku untuk membuka mata dan menerima kenyataan yang ada. Sepertinya aku tidak sanggup menghadapi ini semua. Aku tidak ingin bangun, aku tidak ingin membuka mata, aku ingin tertidur lama….

Tetapi sesuatu yang hangat perlahan menyentuh keningku lembut. Membuatku berfikir siapakah yang tengah meruntuhkan keinginanku yang begitu kuat untuk berlama-lama memejamkan mata. Aku berharap itu adalah kamu. Mungkin saja kamu kembali setelah melihat ketulusan hatiku ini. Dengan beribu harapan akhirnya aku mencoba membuka mata perlahan.

Samar-samar ku lihat seorang laki-laki itu memandangku, tapi masih belum jelas. Pandanganku masih kabur, mungkin karena aku terpejam terlalu lama. Tapi hatiku sudah yakin bahwa itu adalah kamu. Aku berusaha memperjelas lagi pandanganku dengan mengedip-ngedipkan mataku. Dan dengan jelas ku dapatkan dia tersenyum ramah padaku.

 Kekecewaanku semakin dalam setalah mengetahui kenyataan bahwa itu bukan kamu. Rasa sakitku makin tebal setebal kulit bumi. Sampai aku tidak peduli siapa orang didepanku sekarang. Mataku mulai terasa panas dan berkaca-kaca. Betapa bencinya aku dengan semua ini.

“ Kamu sudah sadar?”, Tanyanya ramah.

“Ya, iyalah…udah melek gini masak gak tau?!”, gerutuku dalam hati. Tak sedikitpun aku tak menanggapi pertanyaannya. Entah kenapa aku malah kesal dengan pertanyaannya yang basa-basi itu. Ku rasakan sesuatu yang hangat mengalir dari mataku. Tanpa merasa bersalah sedikitpun ku alihkan pandanganku ke sudut-sudut kamar yang bersih itu sambil menyembunyikan air mata yang terlanjur keluar itu.

“Sebentar ya, aku buatkan teh hangat dulu”, pamitnya seraya berdiri dan menuju dapur. Sepertinya dia cukup paham dengan kediamanku.

Mataku terbentur pada sebuah jam kecil yang lucu di atas meja yang tepat berada disamping tempat tidur dimana aku berbaring saat ini. Waktu menunjukan pukul 07.12. Aku berusaha mengingat-ingat sesuatu. Sampai akhirnya laki-laki itu datang dengan secangkir tehnya. Dengan ramah dia menyuruhku untuk segera meminumnya. Tapi lagi-lagi aku mengabaikan kebaikannya itu.

Dengan nada lemas dan sedikit malas aku bertanya dengan hati-hati.

“Sekarang hari apa?”, tanyaku datar.

“Hari Senin, hampir 17 jam kamu pingsan”, jelasnya dengan sabar.

“Ha,..ha.ri..Senin?!”, ulangku terbata.

“He-eh”, angguknya.

“HAH!”, aku melonjak kaget. Responku itu tampaknya membuatnya kaget.

Tiba-tiba saja aku langsung pulih, aku lupa dengan sakitku. Aku kebingungan, jantungku berdebar tak menentu. Bagaimana ini?! Bagaimana ini?! bagaimana iniiiii..?!?! Hal ini membuat kepalaku sakit. Aaaaarrrghhh….!!!

“Ada apa?!” tanyanya heran, wajahnya tampak kekhawatiran seperti yang kurasakan. Aku hanya bisa mendesah.

Hah, aku berusaha menetralisir keadaan ini. Berusaha menenangkan diriku sendiri kalo semuanya akan baik-baik saja. Akhirnya aku mulai sedikit tenang dan bisa mengatur nafasku yang ngos-ngosan seraya di kejar gorila.

“Ma,..ma..af, aku harus buru-buru!”

Aku berhambur mencari pintu keluar. Aduuuhh….mana sich?!! Banyak banget pintu disini. Ni rumah kok mirip lawang sewu sich! Sekilas ku lihat dia bingung melihat tingkahku. Aku tidak menghiraukannya. Ah, akhirnya aku bisa keluar juga! Tanpa pamit, lupa! Sedang buru-buru!


                                                                 *   *    *